Ketika aku menuju salah satu kampus di bandung, aku lewat jalan yang namanya terusan kiara condong. Di ujung jalan adalah pertigaan siku-siku. di pertigaan tersebut ada bundaran kecil. Aku perlu untuk belok kanan lewat pasa Kordon. Aku lihat ada pak polisi di pasar tersebut. Sign kanan kunyalakan , dengan santainya aku muter. Ternyata di Stop polisi.
Ada apa ya ? Sesuai protokoler, dia hormat dan berkata :” Selamat Siang Pak. Tolong SIM dan STNK pak.”
Masih dengan tenang karena tidak merasa bersalah kukeluarkan SIM dan STNK sambil bertanya:” Ada Pak ? apakah saya telah melanggar rambu-rambu ?” Saat kukeluarkan SIM dan STNK, Polisi itu tampaknya melihat isi dompetku. Bingung salahku apa, juga bingung karena uang di dompetmu tinggal Rp1.000,-. Aku sendiri lupa, ternyata uangku tinggal seribu rupiah.
“Apakah bapak tidak melihat rambu-rambu tidak boleh belok kanan ?”
Sambil celingukan aku cari-cari, tetapi tetap saja tidak kutemukan. Saya berkata :” Mana pak. tidak ada kok pak.”
Polisi itu menunjuk, dan kuikuti arah telunjukknya. “Oh iya, sekarang saya melihatnya pak. Baru ya pak ?”
“Sudah lama pak. Silakahkan tunggu di pos polisi itu pak.” Pasrah juga aku, silahkan saja kalau mau ditilang. Wong enggak bawa duit.
“Ditilang ya pak. Nanti sidangnya di jalan RE. Martadinata. Tahu kan pak ?Bapak sebenarnya mau kemana ?”
Nginget-inget lokasi sidang, akhirnya sok tau kijawab ”Iya pak. Saya tahu lokasinya. sekarang mau ngajar pak.”
“pasti terburu-buru ya pak?”
“iya pak.”
“Nih STNK dan SIM-nya.” sambil mengulurkan SIM dan STNK ke arahku.
“Loh. Kan katanya disidang. kok dikasihkan lagi ?” kataku bingung.
“Lain kali, kalo mau belok lihat rambu-rambu ya pak.”
Horrreeeeeee……aku bebas. Aku berusaha ngeliat namanya, tapi tidak terlihat. Cepat-cepat saja aku pergi dari situ sambil mengucapkan banyak terima kasihhhhhh.