Jam 8 malam. Kami berangkat dari Muara Enim ke Baturaja dengan hati dag-dig-dug. Kami sudah diingatkan oleh Kepala Kantor bohir di Muara Enim agar menginap saja. Mereka khawatir perjalanan kami akan dihadang oleh kawanan rampok. Memang, daerah di Sumatra selatan dikenal sangat rawan dengan penghadangan. Sudah sangat sering terjadi, bahwa mobil yang lewat daerah itu pada malam hari, akan dicegat oleh kawanan rampok dan seluruh harta benda yang ada di mobil akan diambil. Itupun terbilang masih beruntung. Jika nasib sedang apes, maka mobil yang dikendaraipun akan digasak.
Berbekal doa dan ketenangan sopir kami yang asli daerah situ, maka kami nekat melanjutkan perjalanan. Sopir bercerita bahwa dia sering lewat daerah situ dan sudah tahu titik-titik rawan. Dia sudah mempunyai kode agar lewat daerah situ dengan aman. Dia menceritakan bahwa belum lama berselang, sebuah mobil Plat B – Jakarta -, dirampok. Hal ini dikarenakan sopir plat B tersebut tidak tahu kode-kode yang digunakan oleh kawanan disitu. kode-kode itu untuk membedakan bahwa mobil yang lewat adalah “kawan”. Jika tidak memberi kode untuk minta lewat, pasti akan di rampok.
Meskipun sudah diberitahu, aku dan temanku masih saja tetap was-was. Bahkan temanku, sudah menyiapkan isi dompetnya untuk dibuang ke bawah mobil jika terjadi perampokan. Dia berpikir, uang boleh saja diambil, tetapi surat2 penting seperti KTP, ATM, Credit card, STNK, SIM harus selamat.
Benar saja. Di tengah-tengah perjalanan, jalan yang dilalui rusak berat. Mau tak mau, mobil harus lewat pelan-pelan. Pada saat itulah aku melihat seseorang dengan golok di punggungnya santai berjalan di tengah jalan. Seakan-akan dia tidak melihat sorot lampu mobil. Sopir kami memberi kode dengan mengedipkan lampu 3 kali ditambah lampu sein (kalo tidak salah). Barulah orang tersebut menepi dan melihat kepada kami. Sopir kami kelihatan tenang-tenang saja. Mobil kamipun akhirnya lewat.
Fuihhhh. Satu jam kemudian kami sampai di Baturaja yang ramai dan kami bersyukur selamat sampai di tujua.